Tuesday, November 23, 2010

Dia ( part 1 )

"Aku punya seorang teman lelaki. Kami memang tidak terlalu dekat. Namun, dari dirinya aku belajar banyak hal. Dari dirinya, aku makin mengenal arti cinta keluarga, serta arti kehidupan yang sebenarnya. Aku ingin menulis dan bercerita pada kalian, tentang dirinya. Karna aku bangga, pernah mengenalnya".  ^^

Entah mulai kapan aku mulai mengenal mereka. Aku lupa tepatnya. Yang kuingat, aku satu kampus. Bahkan terkadang satu mata kuliah. Tapi karna memang aku dasarnya cuek dengan yang namanya lelaki, jadi ya aku tak terlalu menghiraukan kehadiran mereka. Satu dari mereka adalah teman sekelasku. Tinton, begitulah panggilannya. Baru kemudian kutahu bahwa mereka biasanya tergabung dalam 5 lelaki yang menamakan diri sebagai Power Ranger. Bakti, Tinton, Andy, Agung, dan dia. Ya, dirinya yang kuanggap bermuka paling cute dan paling kalem daripada anggota power ranger yang lain. 

Andy. Darinya, aku mulai mengenal anggota power ranger itu. Awalnya aku takut pada sosok Agung, yang berambut rasta. Sangar. Sementara Andy sendiri, seingatku..agak gaool dengan rambut sedikit disemir. Hufft..dibandingkan dengan anggota yang lain, aku lebih respek pada penampilan dirinya. Si power ranger biru kotak-kotak. 

Biru kotak-kotak :)
Smua orang yang mengenalnya pasti setuju dengan sebutan itu. Tadinya sih aku tidak peduli dengan baju yang ia kenakan. Tapi, kalau kuhitung-hitung dan kubuat pemisalan, dari 10 kali pertemuan di kampus, 7 kali diantaranya ia memakai baju biru kotak-kotak dengan celana kain hitam, serta berambut berbelah tengah. Itulah dirinya. 

Ramadhan 3 tahun lalu. Tepatnya 2007. Sepertinya itulah awal mula aku mulai mengobrol dengan dirinya. Pertama kali dia datang ke rumahku beserta Andy, Tinton, serta Agung. Mengunjungi Kampoeng Ramadhan di kampungku, lalu numpang berbuka. Baru kutahu, ternyata Agung tak sesangar dulu. Toh rambutnya juga sudah berubah. Baru kutahu, ternyata dirinya pun tak sekalem penampilan yang kulihat selama ini.Ya, dirinya yang waktu itupun juga memakai baju biru kotak-kotak. Karna tak ada makanan, kubelikan mereka Mr. Burger yang kebetulan memang dijual di depan rumahku. Kusediakan juga kacang telur satu toples, yang ternyata malah diangkut semua buat dibawa pulang oleh dirinya dan anggota power ranger yang lain.  Saat itulah aku tahu, bahwa ternyata power ranger tidak seseram itu. Para lelaki itu tetaplah para lelaki dudul yang gemar bercanda. 

Dia datang lagi ke rumahku, pada 13 Maret 2009. Tepat di sore hari, dia beserta power ranger dan beberapa teman lain datang ke rumahku. Kuingat dengan jelas, karna waktu itulah ayahandaku meninggal dunia. Dan waktu itu sepertinya ia juga pakai baju biru kotak -kotak. 

Semenjak itulah, aku makin kenal dirinya. Terlebih saat pertengahan tahun 2009. Disaat aku mulai berkutat dengan skripsiku. Rutinitas yang membuatku menjadi rajin berkunjung ke perpustakaan lantai 2 maupun lantai 3. Yup..dirinya waktu itu ternyata diterima menjadi pegawai perpus paruh waktu. Lagi-lagi berdua bersama Agung. Dimana ada Agung, seringkali disitu ada dirinya. Atau kalau tidak?  shift mereka bergantian. Berhubung aku sering online di rumah, dan para perpus crew juga sering online ketika mereka dinas, maka aku pun juga jadi sering berjumpa dengan dirinya via chat fesbuk. 

Masih kuingat, siang hari waktu itu, aku di perpus lantai 3. Dia yang jaga. Aku awalnya hanya berbasa-basi, tapi akhirnya malah sharring pikiran. Baru waktu itu, aku makin salut dengannya. 

"Aku gur pengen cepet rampung skripsi ki..ben gek ndang kerjo, njuk ngrewangi bapak-ibukku nyekolahke adiku."

(*Aku hanya ingin cepet selesai skripsi, biar cepat kerja, lalu bisa membantu bapak dan ibuku menyekolahkan adikku.)

Ya, waktu itu aku, dia, dan Agung, sama-sama berada dalam 1 fase, yakni penyelesaian skripsi. Tapi kami beda dosen pembimbing. Dari perbincangan itulah aku jadi tahu kalau dia anak sulung dari 3 bersaudara lelaki. Asli Kebumen, dan lahir tahun 1985 atau seharusnya angkatan 2004. Waw..tampangnya paling cute, tapi ternyata usianya tua. Itu yang aku bilang ke dirinya waktu itu. Ibunya home industri kecil-kecilan di bidang konveksi. Dan ternyata, baju biru kotak-kotak tersebut, buatan ibunya. Dia juga bercerita kalau terkadang pulang ke Kebumen, lalu membantu ibunya menjahit.  Dia juga bercerita soal adik lelaki yang ingin kuliah di Yogyakarta. Sementara dia mengarahkan agar adiknya masuk STAN, ataupun UNY. Singkat cerita, aku bisa menyimpulkan kalau dia anak yang bertanggung jawab, baik, sayang dengan keluarga, serta pintar. Terlebih mengingat IPK dia sebenarnya nyaris cumlaude. Oiya, satu lagi..ternyata dia anak yang rame..dan tidak sekalem penampilan fisiknya dari kejauhan.. ^^

Januari 2010. 
Di bulan inilah, aku kebetulan bersama Agung akhirnya ujian skripsi. Meninggalkan dirinya yang ternyata masih belum beres dengan pendataan skripsinya. Jadwal dosen yang kurang bersahabat, tema ataupun faktor internal dirinyalah membuat dia terpaksa kami tinggalkan dalam perjalanan penyelesaian skripsi ini. 27 Maret 2010, aku dan Agungpun resmi selangkah lebih maju dari dirinya. Wisuda.

Di antara Januari sampai Maret itupun dia dan Agung lagi-lagi berkunjung ke rumahku. 2 kali. Untuk urusan kuisioner BI. Ternyata mereka ada parttime-an lain selain di perpus. Baru setelah itu, aku tak lagi banyak mendengar kabarnya. April 2010 kudengar akhirnya skripsi dia diACC untuk ujian. dan disusul di bulan Mei 2010 aku menyelamati dia karna dia akhirnya wisuda. Via sms kuucapkan selamat. Tapi ternyata, balasannya malah kurang enak. Kurang lebih isinya :
"Aku loro ki..awakku seh lemes, tapi yo alhamdulillah akhir'e wisuda.. Paling ngko langsung bali ning Kebumen" . 

(*aku sakit nih..badanku masih lemas, tapi ya alhamdulillah akhirnya bisa wisuda, paling nanti aku langsung pulang ke Kebumen)

Hemm..waktu itu memang dirinya terkena penyakit tipus. Kata beberapa temennya sih. Membuat diapun di hari yang seharusnya membahagiakan dia dan keluarga, seakan menjadi kurang lengkap. Pasca kejadian itu, akupun tak mendengar lagi kabar tentang dirinya. 

Pertengahan Juni 2010
Dari Andy, kudengar berita tentangmu. Bukan berita yang baik, namun berita yang mengatakan bahwa kondisimu menurun. Sakit entah apa penyebabnya. Kudengar pula, teman-teman dari perpus menengokmu. Waktu itu, aku hanya bilang, "get well soon, brader" . 

Akhir Juli 2010. 
Dari sinilah, semua dimulai. Lagi-lagi Andy yang mengabariku. 
  "wis niliki kancamu rung? mlebu ning rumah sakit lho"
(dah menengok temanmu belum? masuk rumah sakit lho.. )


Kagetlah aku. Lebih kaget lagi tatkala disebutkan kalo dia disinyalir mengidap penyakit yang tidak "biasa". PKU Muhammadiyah Jogja. Tepatnya lantai 2.Bangsal Arafah. Seulas senyuman menghiasi wajahnya tatkala aku datang mengunjungi dia tuk yang pertama. Tampangnya masih segar. Hanya tampak sedikit kurus, dibandingkan waktu aku terakhir bersua di kampus. Dan tanpa baju biru kotak-kotak kesayangannya. Berceritalah dia kalau dia pasca wisuda, sering tidak enak badan di rumah Kebumen. Di bangsal arafah itu pula, kulihat ibunda serta ayahanda setia menemani. Kulihat raut muka ibundanya yang tampak sedih, cemas, dan khawatir. Tidak paham dengan kondisi yang terjadi pada putra sulungnya. "Masih menunggu hasil laboratorium" begitu kata beliau.

Kamar pasien *seadanya* yang berisikan 4 pasien, termasuk dirinya. Tanpa AC, hanya sebuah kipas angin yang terpasang di atas.  Sesekali kulihat pasien di sebelah dikipasi oleh penjenguknya. Kipas angin itu memang tampak tak ada artinya bila dibandingkan dengan sepuluhan orang yang berebutan udara di ruangan sempit ini. Sehelai tikar juga tampak di bawah tempat tidur dirinya. Pasti untuk tempat istirahat ayah serta ibunda.Kondisi kamar yang sederhana, namun tetap kulihat sorot mata penuh semangat dari dirinya. Sesekali dia tersenyum ketika teman-teman yang menengok berkelakar menggodanya. 


Mulai saat itulah, entah mengapa terketuk hatiku untuk turut membantu sebisaku. Dia yang kemudian belakangan divonis *tumor paru-paru*. Tumor?!? suatu penyakit yang dalam benakku langsung terlintas 1 kata, yakni *mahal*. Aku melihat ada 2 pihak yang sangat membantu dia di saat kondisi seperti ini, selain keluarganya. Perpus crew serta power ranger. Dari sini mulailah aku kenal lebih jauh dengan anak-anak perpus crew. Mas Eja, Mas Fendy, Sari, Sarah, Septi, Sandya, dan masih banyak lagi. Power ranger? digawangi oleh Agung yang masih di Jogja, serta Andy yang selalu memantau dari jauh. Penggalangan dana pun mulai terlintas dalam benak kami. Akupun juga ingin membantu. Semampuku. Aku  merasakan, ada banyak orang yang peduli dengannya. Dengan kondisinya, serta dengan semangat juangnya. Bismillah. Penggalangan dana pun dimulai. 

Diawali dengan orang-orang sekelas, perpuscrew, serta teman-teman yang sekiranya kenal dengan dia. Awalnya masih backstreet, ataupun underground. Tidak terang-terangan. Tapi lambat laun, akhirnya teman-teman sekitar berdelapan orang inipun lebih go public, untuk menghimpun dana. Termasuk memberitahukan pada dosen. Subhanallah, selalu ada jalan kemudahan bagi orang orang yang membantu sesama muslim di jalan kebaikan. Itulah yang aku rasa. Sedikit demi sedikit, selalu ada saja kemudahan dan orang-orang sekitar yang mau saling membantu dalam kondisi ini. Aku merasakan atmosfer yang berbeda. Atmosfer kekeluargaan yang sangat kental. Atmosfer saling memiliki, saling membantu, dan mempunyai satu tujuan yang sama. Yakni ingin melakukan yang terbaik untuk dirinya. Si biru kotak-kotak.

~bersambung~ :)










 

2 comments:

  1. revisi....
    bukan kelahiran taon '85,,,tp tmasuk angkatan '86 :)

    -Mas Eja-

    ReplyDelete
  2. @masEja/romantic pandaaa : wi..ada yang blogwalking..makasih untuk revisine.. ada tipeX ngga? :) biar bisa kuganti jadi 86 gitu? ^^

    ReplyDelete