Monday, July 12, 2010

Dari Mereka Aku Belajar

Ahmad Reza Febriansyah, Ahmad Nayottama Juliansyah, Farzan Ahza Argani, Muhammad Rifansyah Rasendriya Juno, serta Marsita Prada. Itulah guru-guru kecilku. Yang berusia 5, 3, 1 tahun, dan 4 bulan. Guru-guru kehidupan yang menyusup pada diri kelima ponakanku tersayang. Guru yang mengajarkan secara implisit, tidak sperti yang kudapat di bangku kuliah ataupun sekolah selama ini.

Yap...yang namanya pelajaran, bisa kita petik dari mana saja. Yang namanya guru bisa berasal dari siapa saja. Termasuk dalam hal ini, anak-anak kecil di sekelilingku. "Pipiiiiitth..." begitulah Maz Reza dan Maz Nayo memanggilku. Sementara bayi yang lain, masih baru bisa berceloteh tanpa kutau maknanya.Dari Maz Reza, aku seperti diingatkan oleh Allah swt. Bahkan, sampai sempat kubuat satu postingan dalam blogku ini, yang berjudul "Aku Ingin Sperti Reza" Tapi tak hanya itu saja..ada banyak hal yang scara implisit mereka ajarkan padaku. Atau mungkin Allah ingin menunjukkan padaku, sesuatu, lewat mereka. Dan aku sungguh bersyukur, aku dapat melihat ilmu itu. Bisa saja kan? bagi sebagian orang, itu bukan suatu ilmu, namun suatu hal yang biasa saja. Tidak demikian olehku. Aku merasa itu bukan hal yang biasa.

Banyak orang yang suka dengan bayi. Banyak remaja yang gemas dengan bayi dan balita. Demikian juga aku. Tapi ketika melihat keponakan-keponakanku ini dari bayi hingga usia 5 tahun. Terkadang aku tidak gemas dengan mereka. Yang ada? aku capai melihat tingkah mereka. Bayi sampai dengan 6 bulan sungguh tak berdaya. Tangisan adalah satu - satunya komunikasi untuk mengatakan apa yang mereka inginkan. Sudah digendong? diganti popok? tetap menangis. Lama dan kencang pula. Tidak enak didengar.

Sementara bayi 6 bulan sampai dengan 1 tahun? memang masih lucu. Tapi? terkadang aku merasa, mereka bergerak terus, kesana kemari, karna mereka memang berada dalam fase merangkak. Kalo saja kita waktu dititipi bayi usia segitu dan tidak teliti? bisa-bisa si bayi sudah berada di bawah kolong meja, lalu menatap kita dengan polosnya sambil tersenyum ceria. (padahal kita mungkin saja mencarinya ksana kemari). Ya! mereka menikmati dunia. Mereka seakan menjadi Dora the Explorer. Menjelajah kesana kemari, tanpa merasa capai. Padahal mereka hanya merangkak. Walo hanya merangkak, tapi itu cukup membuat mereka harus diawasi ekstra keras. ^^ Lalu bagaimana dengan bayi usia 1 tahun hingga 2 tahun? fase yang juga telah kulihat dari para ponakanku. Fase pertumbuhan bayi dimasa ini ialah mereka berceloteh, atau mulai belajar berjalan. Tertatih-tatih. Ataupun terbata-bata. Lucu? sangat! Namun, terkadang aku sedikit *gemas* karna tak sabar menetah mereka. Memegangi tangan, melihat senyum terkembang di wajahnya. Ataupun? mengajak mereka bercerita, agar mereka termotivasi untuk bicara.

Usia 2 tahun sampai 3 tahun? lain cerita. Sepertinya, di usia ini, bayi sudah menjelma menjadi balita. Yang sudah bisa berlari. Serta mempunyai keingintauan yang tinggi. Ingin ke sana kemari. Alhasil, mereka menjelma menjadi seorang pelari ulung. Tanpa merasa capai. Atau? mereka ingin bertanya mengenai segala macam sesuatu. Apa - apa ditanya. "Ini apa Mah?", "itu untuk apa Yah?"; "Mengapa harus sekolah?" ;"Kenapa harus makan? "Sedang apa Mah?" ; "Untuk apa?" serta serentetan pertanyaan lain. Yang jika dijawab, mereka masih akan memiliki pertanyaan lanjutan yang tampaknya tak kunjung habis. Pernahkan anda memperhatikan itu pada anak kecil di sekeliling anda? ^^ Selain itu, aku merasa, umur 2 hingga 3 tahun ialah fase dimana sisi *jail* mereka muncul. Mereka mulai paham apa itu ngambeg, tidak mau makan, tidak mau tidur, serta negatif serta sifat pembangkang lainnya biasanya akan muncul di usia ini. Terkadang? aku yang hanya sebagai tantenya, merasa gemas. Gemas karna capai,melihat mereka berulah seperti itu. Tapi? itulah anak-anak.

D
emikian pula halnya dengan anak usia 3 hingga 4 tahun. Ada ada saja ulahnya. Karna faktor usia dan makanan, mereka tumbuh menjadi lebih tinggi. Lebih lincah. Ingin memegang ini. Ingin memegang itu. Semakin dilarang? semakin penasaran. Itu sebabnya, dewasa ini, ada pengajaran untuk mendidik anak tanpa menggunakan kalimat larangan. Karna dengan dilarang, maka secara di bawah sadar anak-anak malah akan tertantang untuk melakukannya. Sebenarnya ini juga terjadi pada orang dewasa. Apa anda merasa pernah seperti itu? Memasuki usia 5 tahun? walau mulai bisa diajak diskusi ringan, namun usia 5 hingga 7 tahun juga masih tetap saja anak-anak yang bisa membuat kita makan hati.

Lucu dan menggemaskan? Iya. Namun, berada di dekat anak kecil secara terus menerus? ternyata bisa cukup menguras jiwa dan emosi. Hmm..dari situ, aku menjadi banyak belajar. ^^ Belajar bahwa memang yang namanya bayi sangatlah lemah. Sangat bergantung akan orangtua atau pengasuhnya. Mereka polos. Merekalah yang mengajariku agar aku bisa lebih sabar. Tangisan mereka yang sedikit - sedikit meledak? harus bisa kuuraikan dan kudengar layaknya nyanyian yang nyaman di telinga. SABAR. Itulah caranya menghadapi bayi dan anak-anak. Bagaimana mungkin bayi bisa berkata "aku laparrr Mah!".. mereka hanya bisa menangis. Bahkan terkadang sang Mamahpun masih bingung. Setelah kenyang? mereka tetap menangis. Kepanasan? Ngantuk? Ingin pipis? Masuk angin? mereka tetap menangis. Jadi? dari bayi inilah aku belajar satu hal lagi, yakni PEKA.

Ada buku yang mengatakan, tangisan bayi itu sebenarnya berbeda. Ada tangisan lapar, tangisan ngantuk, tangisan takut, atau hanya sekedar tangisan manja. Itu semua baru akan disadari apabila orangtua/ pengasuhnya peka, dan sabar dalam mendengarkan setiap tangisan si bayi. Proses itu akan indah bila kita tahu dan TEKUN belajar memahami. Selain itu, dari anak kecil, aku belajar menjadi pribadi yang PANTANG MENYERAH. Itu pelajaran yang kupetik lagi. Memangnya ada ya? bayi yang langsung bisa berlari tanpa melewati proses merangkak? tidak kan? Jatuh dan menangis, lalu bangkit. Itulah bayi. Aku belajar dari mereka. Untuk selalu berusaha tak menyerah dalam tiap masalah. Serta tidak menyelesaikannya secara instan. Karena tak ada satupun yang bisa instan. Untuk dapat berlari? sebelumnya harus belajar berdiri dulu. Dari mereka, akupun belajar. Bahwa hidup itu terkadang memang menyakitkan. Menguras air mata mungkin. Namun harus tetap bangkit! menggapai langkah kita lagi. Sebagaimana akhirnya nanti seorang bayi bisa berdiri tegap walaupun sudah berulang kali jatuh. Apakah itu semua selesai? tidak! itu baru awal. Karna setelah berdiri, dan melangkah? mereka belajar berlari. Begitu juga aku. Tak boleh berdiam diri di suatu kondisi. Harus slalu melangkah. Namun juga terkadang harus berlari, mengejar sesuatu.

Pelajaran lain adalah PUNYALAH RASA INGIN TAHU YANG BESAR. Dengan begitu, aku akan tau banyak hal. Bertanya pada orang yang tepat, sehingga orang tersebut nantinya (diharapkan) bisa menjawab pertanyaanku. Atau? bertanyalah pada buku, atau apapunlah. Yang nantinya bisa menjawab teka-teki yang ada di pikiranku ini. Itulah pelajaran yang kupetik juga dari anak-anak. Dari mereka, dari ponakan-ponakanku, aku belajar satu hal yang utama. Menjadi orang tua itu tidak mudah. Belajar memahami anak? itu sulit. Mengarahkan anak dalam jalur yang lurus? itu butuh kesabaran. Namun itu semua bukan suatu hal yang mustahil dilakukan. Dari keponakanku inilah, aku belajar lebih MENCINTAI ORANGTUA.

Bapak, dan ibu. Keduanya tak dapat dipisahkan dari proses pengembangan seorang anak. Bapak atau ayah? yang selalu berpikir mencari rizki demi anak dan istri. Menyayangi anak, walaupun tidak bisa dengan cara yang lemah lembut seperti yang bunda lakukan. Bekerja dan bertindak tegas demi buah hati. Tak bisa terlalu ekspresif dalam kasih sayang,? bukan berarti mereka tidak cinta dengan buah hati. Memang itulah cara Bapak mencintai anak-anaknya.

B
unda? juga demikian. Mual-mual ketika trimester pertama. Susah tidur ketika trimester ketika. Sakit ketika melahirkan? menjadi terobati, tatkala melihat buah hati dalam pelukan. Aku memang belum pernah melahirkan. Namun karna aku pernah menemani kakakku melahirkan? aku tau, itu sakit [tanpa mereka ceritakan padaku]. Aku juga pernah melihat kakak-kakakku terbangun di awal-awal bulan kelahiran. Dengan badan yang masih belum pulih benar, stamina belum baik, namun mempunyai kewajiban untuk memberikan ASI pada bayi. Padahal bayi newborn bisa stiap setengah jam membuka mata, menangis, dan meminta minum. Tidak mudah menjadi seorang bunda. Tidak mudah pula menjadi seorang ayah. Bahkan, jika tidak siap mental dan pengetahuan menjadi orangtua? apapun bisa dilakukan. Entah membuang bayi itu, tidak terlalu care dengan si baby, atau bahkan bisa juga mengalami sindrom baby blues, sperti yang banyak dikupas akhir-akhir ini. Stres pada orangtua. Kurang lebih itulah maknanya. Hmm..aku jadi teringat, aku punya banyak salah pada orangtuaku. Bandel, ngeyel, aleman, apapunlah. Pernah kulakukan dari jaman bayi hingga skarang. Melihat proses kakak-kakakku serta keponakanku yang beranjak besar? merupakan suatu pelajaran penting buatku. Alhamdulillah..aku bisa melihat itu semua sebagai pelajaran. Dari mereka pula, aku menyadari satu hal. WAKTU BERJALAN SANGAT CEPAT. Dulu keponakanku baru satu, Reza. Bayi nan lucu, cakap, menggemaskan! Itu 5 tahun yang lalu. Sekarang? Bayi Reza yang sudah bukan lagi disebut bayi, telah memasuki TK Nol Besar. Bahkan sudah mempunyai empat sepupu! Yang tak lain berarti aku sudah mempunyai lima keponakan. Cepatnya waktu itu. Dan aku tak mau menyia - nyiakan waktu. Last? Aku belajar dari mereka, untuk BERSYUKUR pada Allah swt. Bersyukur aku masih bisa melihat mereka, bersyukur karna aku bisa memetik hikmah dari kelakuan mereka.Bersyukur karna aku dibesarkan di lingkungan yang baik. Alhamdulillah.

Teringat juga akan The Prophet; (aku copas dari FB mbakku)
"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu...
Mereka adalah putra-putri kerinduan Sang Hidup akan diri Nya
Mereka datang melalui engkau, tapi bukan dari engkau
Dan mesti mereka bersamamu, tapi mereka bukanlah milikmu..
Kau bisa memberi mereka cintamu, tapi bukan jalan pikiranmu
Sebab mereka memiliki jalan pikiran sendiri
Kau bisa tempatkan raga mereka, namun tidak jiwa mereka
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah hari esok
Yang tak akan bisa kau datangi, meski dalam mimpi
Kau boleh berupaya untuk menyerupai mereka
Tapi jangan coba-coba membuat mereka menyerupaimu
Sebab hidup tiadalah berjalan mundur dan tiada pula terpancang pada hari lalu
Engkau adalah busur dari anak-anakmu,
seperti anak-anak panah yang disentakkan ke depan...."
-Kahlil Gibran-

Terimakasih guru - guru kecilku. Berkat kalian, aku lebih terbuka melihat proses kehidupan. Berkat kalian, aku belajar melewati masalah. Dari kalian? aku belajar lebih mencintai, dan sabar. Berkat kalian pula nantinya, aku pasti kan mendapatkan ilmu - ilmu baru yang sebelumnya tak kusadari. Terimakasih juga untuk kakak-kakakku, kakak iparku, ibuku, keluargaku tersayang, sahabatku bunda Ayu, serta bunda bunda dan ayah lainnya, yang secara implisit maupun eksplisit mengajari aku akan hidup. Dan aku? tidak ingin berhenti disini. Aku masih ingin terus belajar lagi.Belajar dari orang-orang di sekelilingku.



2 comments:

  1. Anonymous7:12 PM

    Bonjour. D'accod. Mon Ame

    ReplyDelete
  2. tiba tiba pening karna tak tau maknanya T.T

    ReplyDelete